REFLEKSI FILOSOFI PENDIDIKAN MENURUT PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA ( TUGAS 1.1.a.8)
Mendidik dan Mengajar
adalah dua hal yang selalu bersama-sama dan tak bisa dipisahkan, namun itu
hanya sebagai teori semata-mata karena pada
kenyataanya masih banyak diluar
sana yang hanya berfokus pada proses mengajar saja tanpa melibatkan proses mendidik. Mengapa hal itu terjadi, tentu banyak faktor
yang mempengaruhinya, salah satunya yaitu ketidakpahaman akan arti keduanya.
Orang menganggap bahwa mengajar adalah proses mendidik, sehingga banyak terjadi
kesalahan atau miskonsepsi dalam pelaksanannya.
Contoh yang sering kita temuai dilapangan, bahwa banyak guru-guru yang
hanya berfokus untuk mentarnsfer ilmu kepada murid muridnya tanpa memperhatikan
bagiamana kondisi murid itu sendiri.
Kesalahan tersebut diperparah lagi dengan doktrin turun temurun bahwa anak ( murid) itu ibarat kertas kosong yang dapat di isi atau ditulis oleh orang tua atau pendidik( guru) baik pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan yang mereka inginkan, oleh sebab itu keterpurukan dunia anak-anak semakin dalam dan menyedihkan. Hal inilah yang dapat kita rasakan bersama, hampir bertahun-tahun bergelut dalam dunia pendidikan baru sekarang memahami bahwa mendidik dan mengajar adalah dua hal yang berbeda namun saling menguatkan.
Begitu juga dengan saya selama ini , saya beranggap bahwa murid adalah objek pendidikan yang
dapat dibentuk sesuai kehendak guru, terkadang saya juga hanya berfokus
bagaimana cara agar materi dapat tersampaikan semua dan berharap semua murid – murid bisa
menguasainya dan mendapatkan nilai yang tinggi. Dengan pemikiran seperti itulah
yang kadang membuat saya menjadi galau,
terkadang sedih dan marah karena apa yang
diharapkan tidak sesuai harapan dengan kata lain belum mendapatkan nilai
yang tinggi atau tercapai dengan maksimal.
Karena semenjak memasuki dunia pendidikan baik saat mengenyam
bangku kuliah di fakultas keguruan sampai sekarang menjadi guru, belum pernah
mendalami atau mendapatkan pembelajaran tentang filosofi pendidikan itu sendiri
. Sehingga ibarat berjalan hanya tau arah dengan mengikuti jalan yang ada tanpa
tahu apa maksdu dan tujuan yang ingin di capai.
Namun itu dulu,
sekarang pemikiran saya sudah berubah seiring dengan ilmu yang didapatkan saat
mengikuti pendidikan guru penggerak. Pada program awal pendidikan guru
pengegerak yaitu Modul 1, saya
mendapatkan ilmu yang sangat luar biasa yang tentunya memberikan saya pandangan
dan wawasan yang luas tentang filosofi
pendidikan khususnya menurut pemikiran Ki Kajar Dewantara.
Jujur bagi saya hanya
tahu bahwa Ki Hajar Dewantara adalah pahlwan pendidikan yang memprakarsai
berdirinya taman siswa dan 3 semboyon yang sebatas tahu dan di dengar tanpa
tahu arti dan makna di dalamnya. Sedih
memang selama ini tidak mau berusaha mencari tahu, akan tetapi sekarang saya syukur kepada Allah memberikan jalan agar tidak tersesat selamanya yaitu
dinyatakan lulus sebagai calon guru pengegrak yang tentunya ini adalah langkah awal untuk menuju gerbang
perubahan diri dalam dunia pendidikan.
Modul 1.1. ini sungguh
sangat pas dan tepat diberikan kepada kami para CGP ( calon Guru
Penggerak) dimana pada modul ini kami diberikan
kesempatan untuk mengenal konsep pendidikan Ki Hajar Dewanta dengan menyimak video singkat dan juga berdiksusi tentang kondisi pendidikan pada
zaman kolonial serta perjalanan KHD ( Ki Hajar Dewantara ) sejak pembentukkan perguruan taman siswa
sampai pada pemikiran-pemikiran KHD
tentang bagimana menjadi manusia merdeka.
Setelah mempelajari Moduul
1.1. maka dapat saya ambil 3 garis besar inti sari filosofi pendidikkan Menurut Ki Hajar Dewantara:
1. Pendidikan adalah
Tuntunan.
Menurut KHD pengajaran (onderwijs) adalah bagian
dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau
berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi
tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai
seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Jadi menurut KHD (2009),
“pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk
segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup
berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”
Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan
dalam masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia
Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk
mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya
nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan.
Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD
mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun.
Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau
pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan
bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang
subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun
biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat
tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani. Demikian
sebaliknya, meskipun biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik
namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya
matahari serta ‘tangan dingin’ pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh
namun tidak akan optimal. Selain itu pendidik juga dapatt di ibaratkan petenak
ayam yang tentunya hanya bisa menuntun agar induk ayam mengerami telurnya
sampai menetes menjadi anak ayam dan peternak tidak akan kuasa untuk mengubah
telur itik menjadi anak ayam walaupun petani meletakkan telur itik di induk
ayam yang sedang mengerami telurnya.
Menurut KHD pendidikan anak sejatinya menuntut anak
mencapai kekuatan kodratnya yaitu kodrat
alam dan zaman. Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan
dimana mereka berada sehingga beda anak
beda juga perlakuannya. Sedangkan kodrat zaman artinya disesyaiakan dengan
perubahan terutama kemajuan zaman dimana anak-anak murid kita hidup, mereka
harus kita bekali ilmu dan keterampilan yang nanti berguna sebagai bekal merea
hidup di dalam masyarakat. Selain itu kemampuan untuk mengutamkan norma budaya
lokal ditengah dahsyatnya pengaruh budaya asing yang masuk ke dalam negara
kita.
Pada abad 21, banyak seklai tuntutan yang dapat dipenuhi
salah satunya adalah tuntutan pembelajaran abad 21yaitu menjadi pembelajar
sepanjang hayat, membangun konteksbdiri serta identiitaa suatu bangsa dengan
kita sebagai pendidik dapat
Selain itu kodrat anak-anak itu adalah bermain maka
permainan dapat menjadi bagian pembelajaran di sekolah sehingga anak-anak
menjadi senang dan merasakan layaknya hidup sebagai anak-anak.
2. Trilogi Pendidikan.
Ada 3 ( tiga) semboyan
yang sangat terkenal dari dulu hingga sekarang yaitu “ ing ngarso Sung Tuladho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri handayani “.
Atau sekarang diperkenalkan dengan istilah Sistem Among. Satu demi satu akan
saya paparkan apa maksud dari sistem among ini yang tentunya akan sangat
berguna untuk para pengajar dalam proses pembelajaran dengan perseta didik
nantinya.
1. “ Ing ngarso Sung
Tuladho, ( artinya Di depan memberi Teladan ) yaitu guru harus memahami secara
utuh tentang bagaimana cara menjadai contoh teladan dalam budi pekerti dan
tingkah laku.
2." Ing Madyo Mangun Karso,artinya di
tengah membangun kehendak/ memberi semangat yaitu guru diharapkan mampu
membangkitkan semangat, berswakarsa, dan berkreasi bersama murid.
3. "Tut Wuri Handayani (di belakang
memberikan dorongan) yaitu guru tidah hanya memotivasi etapi juga bisa
memberikan arahan, saran dan masukkan agar murid mampu mengeksplorasi daya
cipta, rasa, karsa dan karyanya.
Untuk sistem among ini sendiri dasarkan oleh dua hal yaitu kodrat alam sebagai syarat untuk mencapai kemajuan pendidikan sesuai potensi murid dan kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin murid sehingga dapat mencapai keselamatan dan kebagaianan.
Pada Intinya, anak
atau murid harus dituntun untuk mengembangkan dirinya sesuai kodrat dan
potensinya dengan penuh perhatian, kasih sayang yang tulis , mendampingi,
merawat dan menjaganya serta doa dan harapan untuknya.
Maka guru tidak hanya memandang sistem among sebagai suatu
metode atau sistem saja, tetapi lebih dari itu yaitu sebagai cara berpikir (
mindset) Among. Juga penting disadari oleh kita sebagai pendidik. Guru yang
memiliki karakter dan dihormati murid, guru yang memiliki kemampuan mengelola
dan mengembangkan kemampuan sosial emosional. Sehingga keberpihakan kepada
murid dapat terwujudkan.
3. Pembelajaran berrpusat pada anak dan
Pendidikan budi pekerti
Dari kutipan tulisan Ki
hajar Dewantara “ Bebas dari segala ikatan dengan suci hati mendekati sang
anak, bukan untuk meminta sesuatu hak, melainkan untuk Berhamba pada sang anak
“(Ki Hajar Dewantara, 1922)” [Asas Taman Siswa ke-7, diparafrasakan Profesor
Sardjito, Rektor Universitas Gajah Mada di penganugrahan Doktor Honoris Causa
kepada Ki Hajar Dewantara di bidang Ilmu Kebudayaan, Desember 1956.]
Selayaknya orang tua
tentu berhamba kepada sang anak dan dengan seiklhas-ikhlasnya cinta kasih
sayang untuk anak-anaknya tentu begitu juga yang diharapkan oleh anak didik
kita sehingga tidak ada rasa benci maupun dendam kepada murid dan sebaliknya.
Kata Menghamba tentu
terasa sangat begitu asing ditelinga kita dan berasumsi negatif, Akan tetapi
hal tersebut bukanlah kita harus menuruti apapun kemauan murid-murid kita
tetapi disini lebih kepada pemberi layanan optimal yang didasari keikhlasan dan
ketulusan. Dan perlu kita ingat didalam
memberikan layanan kepada murid , guru juga berperan sebagai penuntun. Guru
tidak harus menuruti semau kemauan dan permintaan muridnya karena jika itu
salah atau negatif maka guru wajib menuntunnya untuk memberikan pemahaman
bahwa itu salah sehingga tidak dapat dituruti. Dan jika hal itu bagus maka
perlu diberikan apresiasi sebagai bentuk pengharagaan kepada mereka.
Sebagai pusat pembelajaran anak seharusnya dapat dengan mudah menerima dan berperan aktif dalam pembelajaran. Kita sebagai guru berupaya untuk memfasilitasi seluruh aspek perkembangan anak didik. Salah satunya dalam proses pembelajaran selaaknya kita memperhatikan cara atau gaya belajar anak sehingga anak akan mendapatkna suanasa belajar yang menyenangkan, rasa dihargai , bebas mengeluarkan ide, berfikir kreatif dapat mengembangakn dirinya sesuai dengan gaya atau bakat/ minat mereka sendiri.
Dalam teorinya yaitu
Teori Konvergensi, KHD menggabungkan dari dua teori yang ada yaitu teori
tabularasa dan teori negatif yang isinya menjelaskan bahwa “ anak bukan kertas
kosong yang bisa digambar sesuai dengan keinguinan orang dewasa". Kodrat manusia
sebagai suatu kertas yang sudah terisi dengan tulisan yang samar dan belum
jelas arti dan maksudnya maka tugas pendidik
untuk memperjelas dan menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki
lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya.
Pertaanyaan sekarang,
bagaimana cara menebalkannya ? tentu cara menebalkan laku anak dengan kekatan
konteks diri anak dan konteks sosio-kultural.
Untuk konteks diri anak tentu disesuakan dengan tahap perkembangan anak itu sendiri, anak 0 sampai 8 tahun tentu pola pengasuhannya berbeda dengan anak 8 – 16 tahun begitu juga dengan 16 -24 tahun. Sedangkan menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks sosio kultur yaitu disesuaikan dengan Kondisi lingkungan anak itu berada. Seperti di kalimantan selatan 3 ( tiga) kata yang selalu kami ucapkan kepada anak-anak baik kecil maupun besar sebagi bentuk doa , pengharapan dan cinta kasih orang tua kepada anak-anaknya yaitu “ Baiman-Bauntung-Batuah”.
Kata Beiman dalam bahasa indonesianya artinya Beriman, diharapkan anak-anaknya memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga menjadikan manusia-manusia yang berakhlak mulia serta memiliki budi pekrti yang luhur. Kata Bauntung atau Beruntung artinya anak-anak mereka bakal menjadi orang yang selalu beruntung dalam mejalani hidupnya, karena bagi masyarakat banjar, orang pantai akan kalah nasibnya dengan orang yang beruntung dan orang yag beruntung tentu akan dijauhkan dari segala kesialan-kesialan. Kata Batuah artinya memiliki karomah atau inerbeuty atau pancaran pesona yang dapat membuat ketertarikan dalam hubungan kerja sama sehingga terjalin komunikasi yang lancar. Dengan doa dan pengharapan tersebut maka diharapkan anak-anak semuanya memeiliki budi pekerti yang baik.
Pengertian Budi pekerti
tersebut dapat diartikan sebagai watak atau karakter yaitu keseimbangan hidup
antara cipta, rasa , karsa dan karya. Budi pekerti melatih anak untuk memiliki
kesadaran diri yang utuh untuk menjadi dirinya
sendiri. Dengan demikian akan melahirkan
generasi yang bijak dalam menghadapi permasalahan hidupnya.
Dari tiga garis
besar filosopi pendidikan menurut
Kihajar dewantara mengisaratkan bahwa guru dan murid dapat berkolaborasi untuk
menginisiasi/ menciptakan kedalaman spiritual, intelektual dan sosial serta
merdeka belajar untuk mencapai keselataam dan kebahagian sebagai manusia
terkhusus untuk mewujudkan strudent wellbeing.
Nah sekarang bagaimana
cara kita untuk mengaplikasikan dalam kontektual di dalam kelas atau di
sekolahan.
Ada banyak tips yang
akan saya berikan diantaranya yang pertama adalah pendidk harus memahami bahwa
pendidikan sebagai tuntunan, sehingga pendidik harus bisa memahami kondisi
siapa yang akan di tuntun, harus siap untuk menjadi pelayan yang melayani
secara optimal, mampu menjadi pemimpin pembelajaran yang dalam implemetasinya
paham akan sistem atau metode among serta memfokuskan pada pembelajaran
berpusat pada murid dan pembelajaran berdiferensiasi.
Yang kedua, seorang
guru harus bisa memotivasi murid untuk belajar dan meningkatkan semagat yang
tumbuh dari kesadarab diri sendiri, bukan karena takut pada guru atau orang
lain.selain itu yang tak kalah penting yaitu pendidik atau seorang guru harus
bisa menjadi contoh teladan ( role model bagi siswa dan rekan sejawatnya) dan
agen perubahan serta mampu mengikuti perubahan sesuai dengan kodrat alam dan
kodrat zaman murid-muridnya.

Alhamdulillah terima kasih ibu.... salam kenal dan salm hormat dari saya
BalasHapus